Monday, 10 December 2018

Cara Efektif Menjaga dan Menghafal Al-Qur’an

(Ket. KH. Abdullah Afif menyampaikan ilmu dan metode menjaga menghafal al-Quran kepada peserta) sumber: kopiireng, Ulin
Tebuireng.online-Seminar Al-Qu’ran oleh BEM FAI Unhasy pada Minggu (9/12/18) mengusung tema “Metode Menghafal Al-Qur’an Serta Cara EfektifMenjaganya” dengan pembicara KH. Ainul Yaqin (Pengasuh PP Hamalatul Qur’andi Jogoroto ) dan KH Abdullah Afif M.HI (Pengasuh PP. Nurul  Jadid dan Direktur PSQ FAI Unhasy ).
KH. Ainul Yaqin menjelaskan, pendekatan yang  memudahkan hafalan al-Quran yaitu dengan penjiwaan dengan fashohah.  Dari segi lughoh, (fashohah) mempunyai makna “vocal atau suara manusia”. Sedangkan menurut istilah, mengandung makna ucapan yang mudah dan pendengar memahami. Istilah Jawa yaitu “pantese omong, penake rungon”  yang berarti ketika seorang penghafal mampu menguasai fashohah dengan baik, maka ketika mereka melantunkan ayat al-Quran, mereka akan mengucapkan dengan mudah dan enak didengarkan. Sekaligus membuat seorang penghafal mudah untuk menghafal.
Dulu yang mengajarkan Kyai Manan, katanya. Salah satu nilai plus dari menjiwai fashohahyang sekaligus mempelajari tajwid adalah dapat menyelamatkan diri dari ghuroba’(sesuatu yang sulit untuk diucapkan). Al-Quran itu nikmat diucapkan, nikmat juga didengarkan. Serta penjelasan lain yang salah satunya, ahkamul huruf, konsonan yang mati  dan vocal yang mati.
Beliau juga menjelaskan bahwa di PP. Halamatul Qur’an menggunakan model  habituasi(pembiasaan) sebagai salah satu cara cepat hafal al-Quran. Yaitu pembuatan sarana dan budaya satu macam tujuan, satu macam konsumsi telinga secara alamiah dan ilmiah. meng-habit-kan seperti yang diterapkan dalam pondoknya setiap satu minggu sekali, para santri sudah khatam al-Quran. Satu hari dibagi menjadi 5 juz secara istiqomah dan santri masih tetap bersekolah di pagi dan siang harinya. Disana juga menerapkan metode Disiplin Edukasi  “Moco Njogoroto” yang menurut beliau tidak diterapkan di pondok lain yang berbasis menghafal. Di dalam metode tersebut ada 3 tahap yaitu moco (membaca), njogo(menjaga), dan roto (sama rata ).
(Seseorang) tidak harus cerdas dalam menghafalkan al-Quran, melainkan akan cerdas dengan sendirinya jika menjadi penghafal Qur’an. “Menghafalkan Al-Qur’an tidaklah susah, malah mudah,” papar beliau.

Sumber : https://tebuireng.online/cara-efektif-menjaga-dan-menghafal-al-quran/

MENCINTAI DZURIYYAH RASUL





Seiring lemahnya kaum Muslimin memegang ajaran agama, juga pesatnya pertumbuhan benalu dalam pohon Islam, rasa cinta kepada keturunan Nabi (dzuriyyah) mulai pudar. Oleh sebagian aliran, mereka dicela dan disepelekan. Padahal prinsip Ahlussunah wal Jamaah menganjurkan untuk mencintai dan memuliakan mereka sejak dini. Diriwayatkan dari Imam Ad-Dailami, Rasulullah memerintahkan untuk mengajarkan anak-anak kita mencintai beliau, keluarga beliau, dan membaca al-Qur’an.
Rasulullah Saw. Mengingatkan kita untuk menjaga perilaku kepada keluarganya secara dlahir dan batin. Jangan sampai kita mendzalimi atau  membenci mereka. Setelah beliau berwasiat untuk berpegang teguh pada al-Qur’an dan Sunah, beliau lantas berkata: dan kepada keluargaku aku mengingatkan kalian kepada Allah Swt. Dan kepada keluargaku aku mengingatkan kalian kepada Allah Swt. Dan kepada keluargaku aku mengingatkan kalian kepada Allah Swt.
Sayyidina Husain bertanya kepada sahabat Zaid,” Siapakah keluarga rasulullah wahai Zaid? Bukankah istri-istri beliau termasuk keluarga?” Zaid pun menjawab,” istri-istri beliau termasuk keluarga beliau, akan tetapi keluarga beliau adalah orang-orang yang menerima zakat.” Ia bertanya lagi, “Siapakah mereka?”. Zaid pun menjawab,  “Mereka adalah keluarga Sayyidina Ali, keluarga Sayyidina ‘Uqail, keluarga Sayyidina Ja’far, dan keluarga Sayyidina Abbas.” Ia bertanya, “Mereka haram menerima zakat”, Zaid menjawab, “Benar.”
Keutamaan Dzuriyyah Rasul
Selepas wafatnya Nabi, maka dzuriyyahnyalah yang paling mulia di muka bumi ini. Tidak ada hubungan nasab (intisab) yang lebih mulia selain kepada Rasul.  Mereka terlahir ke dunia dari darah daging yang begitu mulia.  Jika sahabat mempertemukan kulitnya dengan kulit beliau akan mendapat kemuliaan dengan jaminan masuk surga, maka bagaimanakah dengan para habib dan sayyid yang merupakan darah daging beliau sendiri?
Para mufasir menyepakati, keturunan Nabi terhubung dari putri beliau, Siti Fatimah. Dialah satu-satunya putri yang melahirkan cucu dan cicit-cicit beliau. Intisab seperti ini termasuk salah satu keistimewaan beliau, sebagaimana termaktub dalam surat al-An’am ayat 84. Ayat tersebut menyebutkan bahwa Nabi Isa tetap termasuk keturunan Nabi Nuh. Nasab beliau dengan Nabi Nuh dihubungkan melalui ibu beliau, Siti Maryam, karena memang beliau lahir tanpa lantaran seorang ayah.
Nasab Rasul adalah yang paling mulia di bumi ini. Diurut ke atas, beliau adalah keturunan para pemuka agama dan para Nabi pendahulu. Adapun ke bawah, terdapat keturunan beliau yaitu para ulama’ yang menjadi tokoh besar Islam, seperti Sayyidina Hasan, Sayyidina Husein, Habib Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad, Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki, dan Habib Umar bin Hafidz, dan para walisongo yang membawa Islam ke Indonesia. Nabi senantiasa menuntun mereka baik dalam mimpi maupun terjaga agar senantiasa berada di jalan kebenaran.  Merekalah orang-orang yang telah disucikan oleh Allah Swt.
انما يريد الله ليذهب عنكم الرجس اهل البيت ويطهركم تطهيرا
Artinya : Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa kamu, hai Ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS.Al-Ahzab: 33).
Rasulullah mencontohkan mereka laksana bintang di langit yang menjadi pengaman penduduk langit. Namun demikian, mereka juga pengaman bagi penduduk bumi. Dalam syairnya Imam Syafi’i berkata, “Hai Ahli bait Rasulullah, Cinta kepada kalian adalah kewajiban dari Allah dalam al-Qur’an yang diturunkannya. Cukuplah ketinggihan derajatmu, siapa saja yang yang tidak membaca shalawat kepadamu, maka do’anya tidak akan diterima.
Kita sepatutnya memuliakan keluarga nabi sebagaimana Zaid bin Tsabit, seorang alim, hafal ribuan hadits sekaligus menjadi penulis hadits Nabi. Ketika Abdullah bin Abbas mendatanginya, ia langsung mencium tangannya. Hal itu ia lakukan sebagai bentuk penghormatan kepada sayyidina Ibnu Abbas yang termasuk keluarga Rasul. Makanya tidak mengherankan jika Imam Ibnu Hajar para habaib meskipun bodoh daripada orang alim ketika dalam satu majlis.

Ancaman Membenci Keluarga Nabi
Alangkah celaka orang yang membenci keluarga nabi. Orang yang mencintai keluarga beliau berarti harus mencintai beliau. Sebaliknya, orang yang membenci mereka berarti membenci beliau. Sebagiamana manusia pada umumnya, mereka pasti marah apabila keluarganya dihina oleh orang lain.
Suatu hari, berdiri di atas mimbar, beliau berkata, “Apa keadaan kaum yang menyakiti aku dalam nasab dan kerabatku? Barang siapa yang menyakiti keturunanku dan mempunyai hubungan denganku, berarti dia menyakitiku, dan barang siapa yang menyakitiku berrati dia menyakiti Allah.
Tidak selayaknya orang mengaku cinta Allah, kecuali ia juga mencintai rasul. Demikian pula, tidak selayaknya orang yang mengaku cinta pada rasul kecuali cinta juga kepada keluarganya.
قل لا اسئلكم عليه اجرا الا المودة فى القربى
Artinya: “Katakanlah aku tidak meminta kepadamu suatu upah atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.”(QS. As-Syura : 23).
Said bin Jubair ditanya tentang ayat di atas. Beliau menjawab yang dimaksud keluarga adalah keluarga Rasulullah.
Maka tidak ada kata lain bagi mereka yang memerangi, mendzalimi, dan memaki-maki keluarga Nabi melainkan tempatnya di neraka. Bahkan seandainya ada orang setiap hari berhaji, mencium Hajar Aswad dan melakukan shalat di Maqam Ibrahim, setiap hari perutnya kosong untuk berpuasa, kemudian dia meninggal dalam keadaan membenci keluarga Nabi, maka tempatnya adalah di neraka. Mereka pantas memperoleh murka Allah Swt.

Syi’ah, Cinta Ahli Bait
Mencintai Ahli Bait adalah di antara prinsip aqidah aliran Syi’ah. Mereka mengklaim diri sebagai golongan yang mencintai dan mengedepankan keluarga Nabi. Sebagaimana yang sudah masyhur dalam sejarah, mereka enggan ikut pemerintahan Abu Bakar, Umar, Utsman, Amr bin Ash dan Mu’awiyah. Mereka hanya mengakui kepemimpinan Ali bin Abi Tholib, Sayyidina Hasan dan Husain, Ali bin Husain, Zaid bin Ali dan Ja’far as-Shodiq.
Sebelum wafat, Rasulullah telah mengabarkan kepada sayyidina Ali kemunculan golongan Rafidlah atau Syi’ah yang akan mengkultuskannya. Mereka mengaku cinta ahli bait, padahal sebenarnya tidak.
Mereka kerap memaki-maki Abu Bakar dan Umar karena dianggap merebut kekhalifahan Sayyidina Ali. Padahal ijma’ sahabat telah sepakat untuk mengutamakan Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Kesepakatan mereka tak mungkin salah. Bahkan Sayyidina Ali sendiri berbaiat pada pemerintahan Abu Bakar. Meskipun saat prosesi beliau tidak hadir, namun setelahnya beliau tetap berbaiat kepadanya.
Kita memang diwajibkan untuk mencintai keluarga nabi, namun rasa cinta itu tidak sampai pada taraf mengkultuskan mereka sehingga menganggap mereka sebagai Nabi. Kita juga tidak boleh terlalu mengagungkan mereka sampai-sampai mencela para sahabat lain.
Imam al-Baihaqi meriwayatkan sebuah hadits, “Barang siapa mencela salah satu sahabatku, maka dia mendapat kutukan dari Allah, malaikat dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima ibadah wajib dan ibadah sunahnya.” Ironisnya, lahir hadits-hadits palsu yang memaksa membenarkan pernyataan mereka. Mereka mengatakan bahwa selama mematuhi sayyidina Ali, mereka akan tetap masuk surga sekalipun tidak taat kepada Allah Swt. Nau’dzubillah min dzalik.
 [Muslimin Sairozi/Majalahlangitan.com]


Sumber : http://langitan.net/?p=5190

Semangat Mendobrak Perkara Mustahil

Di suatu desa terpencil, hidup seorang pemuda dengan kulit yang hitam. Dia kesehariannya sibuk dengan mencari kayu bakar, lalu dijual untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Suatu hari dia melihat wanita yang sangat cantik, sampai-sampai ia jatuh hati kepadanya. Ia adalah putri seorang raja di daerah tersebut. Tak peduli bentuk fisik dirinya yang hitam, yang penting bagi dia bisa menikah, hidup bahagia bersama dengannya.
Tanpa takut pemuda itu meminta melamar putri raja tersebut. Karena raja melihat pemuda itu orang yang miskin dan tidak kufu’ dengan putrinya, raja menerima dengan satu syarat, yaitu maharnya harus berupa mas permata, intan, berlian dan perhiasan yang sangat mahal. Sungguh tidak disangka, pemuda itu menerima tantangan itu dengan perasaan yakin.
Bergegas pemuda itu memutar otak untuk menjalankan misinya. Terbesit dipikirannya bahwa tempatnya perhiasan ada di dasar laut, tapi ia bingung, bagaimana caranya untuk sampai ke dasar laut. Tanpa pikir panjang ia menguras laut itu dengan satu timba yang dibawanya.
Lama-kelamaan, si ikan melihat pemuda itu menguras air laut. Si ikan mengira bahwa air laut akan habis dan tamatlah hidup para ikan di lautan. Sehingga si ikan lapor kepada pimpinan ikan saat itu, yaitu ikan hiu. Lalu pemimpin ikan mengumpulkan para pembesar ikan dan mencari jalan keluar akan masalah ini. Kemudia diputuskan masing-masing ikan di laut harus mencari intan berlian dan mas permata untuk di lempar melalui mulutnya ke daratan, karena yang diinginkan oleh pemuda itu hanyalah intan berlian dan mas permata. Lalu para ikan-ikan di laut mencari permata ke dasar laut dan menyemburkannya ke daratan, hingga seperti hujan permata.
Kemudia, setelah pemuda melihat kejadian yang seperti hujan permata, ia menghentikan pekerjaan menguras laut dan mengambil serta mengumpulkan butiran-butiran permata yang berserakan di sekitarnya.
Tanpa menunggu waktu lama, pemuda itu membawa permata yang ia dapatkan ke hadapan raja, guna melamar seorang putri. Melihat hasil yang di dapatkan si pemuda, raja terkejut dan tidak percaya dari apa yang didapatkan pemuda itu. Singkat cerita, akhirnya pemuda itu berhasil melamar putri raja dan hidup bahagia bersamanya.
Hikmah Cerita
Hikmah yang bisa kita petik dari cerita ini, bahwa pemuda itu nekat melakukan sesuatu yang mustahil secara akal (menguras laut). Akan tetapi karena pemuda itu berusaha sekuat tenaga dan pantang menyerah, dia bisa mendapatkan apa yang diinginkan walaupun itu mustahil. Maka, satu pesan dari penulis ‘berusahalah sungguh-sungguh walaupun apa yang kalian impikan hal mustahil’.
Hasantholut/Tafaqquh

Sumber : https://sidogiri.net/2017/12/semangat-mendobrak-perkara-mustahil/

Sopan Santun Membaca Al-Qur’an

DISUSUN OLEH: KH. ARWANI AMIN KUDUS
kecil mbah arwaniBISMILLAHIIRRAHMAANIRRAHIM
Sopan santun/tata cara membaca alqur’an itu banyak sekali. Adapun cara yang paling baik iyalah harus badan bersih juga pakaiannya, serta wajib suci yakni berwudlu lebih dahulu, duduk yang baik, tenang anggota badannya dan tenang hatinya dan harus ikhlas membacanya hanya karna Allah. Lebih utama dibaca diwaktu sholat atau sesudah sholat. Lebih baik lagi membacanya diwaktu malam hari, lebih-lebih setelah tengah malam.
Kalau akan membaca alqur’an lebih dahulu membaca”   اعوذ بالله من الشيطان الرجيم“ dan membacanya yang terang (tartil), terang tiap-tiap hurufnya, dibaca menurut makhroj dan sifat-sifat hurufnya begitu juga tajwidnya harus yang benar, dan harus dijaga waqof (berhenti) washolnya (sambung). Kalau semestinya waqof maka harus diwaqofkan, sebaliknya kalau washol maka harus diwasholkan.
Adapun hal-hal yang memudahkan kita untuk mengetahui mana yang sebaiknya waqof atau washol itu kita harus memperhatikan pada tanda-tanda waqof atau washol yang sudah ditulis oleh para ulama’ ahli qur’an pada ayat-ayat alqur’an. Kalau kita mau menggunakan tanda-tanda tadi insyaallah kita dapat dengan mudah memahami arti alqur’an.
Wajib bagi orang yang membaca alqur’an atau yang mendengarkan bacaan alqur’an untuk menujukan hati dan pikirannya kepada ayat-ayat alqur’an yang dibaca atau didengarnya, supaya dapat memahami arti atau maksud yang terkandung dalam Al-qur’an. Inilah tujuan dan maksud Al-qur’an dibaca dan didengarkan, dan orang yang membaca alqur’an atau mendengarkannya kalau ada ayat-ayat yang sifatnya memerintah, harus merasa bahwa dirinyalah yang diperintah itu, dan sebaliknya kalau ada ayat-ayat yang sifatnya mencegah maka harus merasa bahwa dirinyalah yang dicegah itu.
Orang yang beruntung adalah orang yang mau menerima ajaran alqur’an serta alqur’an digunakan sebagai dasar pokok untuk menjalankan ibadah dan mencari penghidupan, hubungannya sesama manusia didasarkan atas dasar hukum-hukum alqur’an, dan dapat membedakan perintah alqur’an, mana yang halal mana yang haram.
SabdaRosulullah:
كتاب الله فيه نباء ما قبلكم وخبرما بعدكم وحكم ما بينكم هو الفصل ليس بالهزل ومنابتغي الهدى فى غيره اصله الله تعالى وهو حبل اللهالمتين وهو ذكر الحكيم وهو الصراط المستقيم وهوالذى لا تزيغ به الاهواء ولا تلتبس به الالسنته ولا تشبع منه العلماء
Yang artinya: kitab alqur’an itu memuat cerita-cerita kuno sebelum kamu sekalian , dan juga untuk memberi hukum barang yang ada diantara kalian semua. Al-qur’an adalah perintah yang pasti bukan senda gurau. Barangsiapa yang mencari petunjuk selain petunjuk alqur’an maka orang tadi akan disesatkan oleh Allah. Al-qur’an adalah tali Allah yang kuat serta Alqur’an adalah perintah yang mengandung banyak hukum-hukum, dan alqur’an adalah yang lurus yang tidak akan belok oleh hawa nafsu, dan al-qur’an adalah perintah yang tidak akan kabur diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan alqur’an adalah perintah yang tidak akan dapat mengenyangkan para alim ulama.
Alih bahasa :Agus Irhamna/Fadhlus S



Sumber : https://ptyqputra.arwaniyyah.com/sopan-santun-membaca-al-quran/

Penasaran, Mahfud MD Tanya Silsilah Kiai Asep sebagai Putra Pendiri NU


SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Belakangan banyak warga dan kader Nahdlatul Ulama (NU) penasaran terhadap munculnya berita bangsaonline.com yang menyebut Dr KH Asep Saifuddin Chalim putra kiai salah satu pendiri NU. Apalagi berita itu kemudian dilansir Kumparan.com.

Pertanyaan yang muncul rata-rata: benarkah Kiai Asep Saifuddin Chalim putra salah satu kiai pendiri NU. Dari mana silsilahnya?
Bahkan Prof Dr Mahfud MD, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi dan Menteri Pertahanan era Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menanyakan langsung terhadap Kiai Asep saat silaturahim ke kediamannya di Siwalankerto Surabaya. Kiai Asep yang pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur itu menerima Mahfud MD di kediaman putra tertuanya, Gus Bara, Ahad sore (1/7/2018).
Lalu bagaimana jawaban Kiai Asep? Kiai santun ini mengakui memang baru-baru ini saja mengungkap ke publik. ”Saya pernah jadi ketua PCNU Surabaya. Tapi walaupun saya ketua NU tak pernah menceritakan saya anak pendiri NU,” kata Kiai Asep kepada Mahfud MD yang tampak serius menyimak jawaban Kiai Asep.
”Saya baru cerita setelah saya punya Pacet,” kata Kiai Asep sembari tersenyum. Maksudnya ia berani bicara ke publik sebagai putra salah satu kiai pendiri NU setelah ia sukses mendirikan pesantren Amanatul Ummah di Pacet Mojokerto.
Kiai Asep semula mendirikan pesantren di Siwalankerto Surabaya. Kemudian mendirikan pesantren di Pacet Mojokerto. Ternyata sukses besar. Kiai Asep punya sekitar 10.000 santri. Bahkan output pesantren yang diasuhnya banyak diterima di perguruan tinggi di luar negeri. ”Tahun ini banyak diterima di Unversitas Al-Azhar Mesir,” katanya.
Selain di Mesir, santri lulusan Pesantren Amanatul Ummah banyak diterima di universitas di Jerman, Maroko, Jepang, Australia, Amerika dan negara-negara lainnya.
Begitu juga di dalam negeri. Lulusan Amanatul Ummah banyak diterima di perguruan tinggi favorit seperti Unair, ITB, IPB, ITS, UB, Unesa, Uinsa, UGM, UIN Syarif Hidayatullah, dan universitas lainnya.
“Ayah saya itu dulu teman Kiai Abdul Wahab Chasbullah saat sama-sama belajar di Makkah,” tutur Kiai Asep. Mendengar itu Mahfud MD mengangguk-ngangguk. Ayah Kiai Asep adalah KH Abdul Chalim.
Kiai Asep menuturkan, saat sama-sama belajar di Makkah, ayahnya, Kiai Abdul Chalim, dan Kiai Abdul Wahab Hasbullah sepakat untuk bertemu lagi di Indonesia dan berjuang memerdekaan bangsanya dari penjajah.
Karena itu sepulang belajar dari Makkah Kiai Abdul Chalim yang asli Leuwimunding Majalengka Cirebon Jawa Barat itu kemudian bertemu lagi denganKiai Abdul Wahab di Surabaya.
Bersama Kiai Wahab, Kiai Abdul Chalim mendirikan Nahdlatul Wathan di Surabaya. Kiai Abdul Chalim saat di Surabaya tinggal di Jalan Kedung Sroko , kampung religius yang terletak di belakang Fakultas Kedokteran Unair.
Dalam organisasi Nahdlatul Wathan, Kiai Abdul Chalim jadi sekretaris sedang Kiai Wahab jadi ketua.
“Saat kiai-kiai mau mengirim utusan ke Hijaz yang kemudian mendirikan NU, ayah saya yang membuat suratnya. Saat merumuskan isi surat itu ayah saya mengusulkan kepada Kiai Wahab: apakah tujuan memerdekakan bangsa tak perlu dicantumkan dalam surat ke Hijaz? Kiai Wahab menjawab, o iya, itu yang utama,” ungkap Kiai Asep.
Karena itu mudah dipahami ketika Hadratussyaikh KHM Hasyim Asy’ari mendirikan NU Kiai Abdul Chalim juga berperan aktif bersama Kiai Abdul Wahab Chasbullah. Kiai Abdul Chalim dan Kiai Abdul Wahab inilah yang mengundang kiai-kiai dari Madura dan Jawa. Bahkan Hadratussyaikh mempercayakan kepada Kiai Abdul Wahab dan Kiai Abdul Chalim untuk mengisi susunan pengurus PBNU lantaran dua kiai muda ini yang paham siapa saja para kiai aktivis saat itu.
”Kan sebelumnya ayah saya sekretaris Nahdlatul Wathan, jadi banyak tahu siapa saja yang aktivis,” tutur Kiai Asep yang kini Ketua Umum Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Pusat.
Karena itu mudah dipahami jika dalam susunan PBNU pertama Kiai Abdul Chalim masuk dalam pengurus harian. ”Saat itu Kiai Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar, Wakil Raisnya Kiai Dahlan Achyat, sedang Kiai Wahab Katib Awal, dan ayah saya Katib Tsani (Naibul Katib-red),” tutur Kiai Asep yang juga Wakil Mabinda (PMII) Jatim dan Mustasyar PCNU Surabaya.
”Selama ini orang-orang mengenal ayah saya sebagai sekretarisnya Kiai Wahab. Ya memang benar tapi sekretaris dalam organisasi,” tutur Kiai Asep.
Meski demikian Kiai Abdul Chalim tak sempat mendirikan pesantren. ”Kiai Wahab pernah pengatakan, dari semua kiai-kiai pendiri dan pengurus NU (PBNU) hanya sampean (Kiai Abdul Chalim) yang tak punya pesantren. Ayah saya menjawab, nanti anak saya yang akan punya pesantren besar. Mendengar itu Kiai Wahab sempat terperanjat,” ungkap Kiai Asep.
Ternyata apa yang disampaikan Kiai Abdul Chalim benar. Kini putra Kiai Abdul Chalim, yaitu Kiai Asep Saifuddin Chalim punya pesantren besar.
Mendengar uraian Kiai Asep itu Mahfud MD tampak manthuk-manthuk. Apalagi saat Kiai Asep mengatakan bahwa apa yang ia sampaikan itu bukan hanya berdasarkan cerita dari ayahnya tapi memang ada dokumentasi yang ditashhih Kiai Abdul Wahab Hasbullah. Mahfud MD sekitar satu jam lebih terlibat diskusi dengan Kiai Asep Saifuddin Chalim. Selain menanyakan silsilah Kiai Asep sebagai putra salah satu kiai pendiri NU, Mahfud MD juga mendiskusian persoalan-persoalan aktual nasional. (MMA)

sumber : https://www.mbi-au.sch.id/newmbi/?p=2482

Dawuh KH. M. Anwar Manshur Saat Pengarahan Liburan




Sebaik-baiknya orang di dunia itu orang yang mau ngaji.
Kalian mau mengaji merupakan pilihannya Allah SWT maka dari itu kalian yang ngaji ini harus disyukuri dengan cara mempeng.
Ngaji itu harus benar-benar kangelan.
Orang yang baik di dunia itu ada dua, pertama orang yang mulang ngaji yang kedua orang yang mengaji.
Orang beribadah tidak memakai ilmu, ibadahnya tidak diterima.
Kalian adalah pilihane Allah karena kalian mau mengaji jangan berkecil hati, kalian harus mensyukuri itu, dengan cara mengamalkan ilmu yang telah kalian peroleh dan ditambahi ilmu-ilmu yang masih belum diperoleh.
Saat liburan yang masih sekolah disini, kalian di pondok saja menghafalkan pelajaran yang akan datang.
Supaya ringan, saat ramadlon kalian menghafalkan Imrithy, Alfiyyah atau maknun sampai khatam, nanti Syawal sudah enak tinggal nglalar saja tinggal ngaji sudah dapat hafalannya.
Disamping belajar pelajaran yang wajib di pondok, kalian juga pelajari ilmu kemasyarakatan, seperti mengimami tahlilan, berzanji, dibaiyyahan, belajar khotib, selagi masih di pondok.
Jika kalian memiliki ilmu yang cukup dimanapun berada kalian merasa enak, makannya yang mempeng selagi masih di pondok.
Kalian dipondok ada ngaji ada jamaah ada juga yang belajar kalau diluar godaannya macam-macam.
Gunakan kesempatan dipondok belajar macam- macam ilmu terutama situasi masyarakat, kalian pelajari.
Jangan pernah buat mainan di pondok itu daripada menyesal sendiri nantinya.
Terkadang tujuan kita mondok 15 tahun akan tetapi tiba-tiba baru 10 tahun harus pulang , kalau tidak mempeng tinggal menyesalnya saja dan menangis.
Jika dari pondok tidak bisa apa-apa nanti hanya bisa membingungkan orang saja. Namanya orang dari pondok pasti menjadi rujukan masyarakat, karena sudah dianggap belajar syari’at agama islam.
Kalian kalau pulang dari pondok akhlaknya dijaga, jangan pulang tidak memakai peci, celanaan, yang benar kalau pulang seperti di pondok memakai peci, tunjukkan bahwa kalian benar-benar santri, itu merupakan dakwah bil hal.
Dengan menunjukkan sikap dan akhlak yang baik maka masyarakat akan tertarik memondokkan anaknya di pesantren lirboyo.
Jangan sampai melakukan sesuatu yang membuat jelek nama pondok, kalian mondok harus menunjukkan akhlakul karimah, memakai celana boleh tapi yang benar juga pecinya jangan dislempitkan, tunjukkan kalian pondok pesantren, masyarakat biar mau memondokkan anaknya, dimanapun tunjukkan akhlak yang baik.
Jangan sombong, tawadluk itu tidak merasa, meskipun kamu pintar tidak merasa pintar, meskipun kamu alim tapi tidak merasa alim, menghargai orang lain.
Tawadluk itu bukan rendah akan tetapi kita merasa sama-sama tidak memiliki, sama-sama menghormati kepada orang lain.
Dimanapun tempatnya yang terpenting adalah akhlak, sepintar apaun jika tak berakhlak tidak ada harganya.
Mulai keluar dari pondok yang baik, do’a bepergian di baca karena di jalan banyak macam-macam kendaraan.
Sampai di rumah yang pertama dilakukan salaman kepada kedua orang tua, meminta maaf jika mengecewakan orang tuanya ketika di pondok.
Jika orang tua mengerjakan pekerjaan kalian minta, jangan hanya tidur saja itu tidak baik, orang tua sudah merawat kalian dari kandungan, kalian dibawa kemana-mana, kalian harus berangan-angan kalian tidak akan bisa membalas jasa mereka.
Orang tua merawat  anak itu dengan rohmah, merasa welas supaya anaknya bisa menjadi soleh solehah, kalian merawat orang tuanya ketika sakit selama 2 bulan saja pasti sudah merasa gak enak, makanya jangan sampai membantah orang tua.
Dawuhnya orang tua, kalian dengarkan jika kalian mampu laksanakan jika belum mampu kalian utarakan.
Dari pondok kalian salaman kepada orang tua berterima kasih atas biaya yang diberikan kepada kalian di pondok.
Kalian harus sadar, jangan mudah-mudah untuk meminta bekal, kalian sudah bukan kewajiban orang tua jika kalian tidak ngaji, kalian harus bersyukur telah dikirimi.
Birul walidain itu tidak membantah dan mengecewakan hati orang tua.
Yang sebelumnya mondok belum bertuturkata baik (boso kromo) kepada orang tua besok pulang harus bertutur kata baik (boso kromo).
Siapapun orang yang bisa birrul walidain hidupnya barokah.
Kalian di pondok di didik akhlakul karimah jadi kalian harus bisa menerapkan akhlakul karimah dimana saja.
Nanti ketika sudah waktunya berangkat pondok jangan telat, jika sudah waktunya segeralah berangkat ke pondok, kalian disiplin mengikuti peraturan itu sudah terlihat memulyakan para masyayikh dengan apa yang dikehendaki masyayikh.
Kalain berada di pondok itu biar kalian bisa menjadi orang baik, orang tua kalian ingin memiliki waladun solih solihah.
Di pondok yang sungguh-sungguh biar menjadi orang soleh menjadi orang yang bisa menjalani kebenaran.

Sumber : https://lirboyo.net/dawuh-kh-m-anwar-manshur-saat-pengarahan-liburan/

Mengenal Sosok Habib Umar bin Hafidz



Mengenal Sosok Habib Umar bin Hafidz
Perawakannya tak terlalu tinggi, sedang-sedang saja. Wajahnya yang dihiasi jambang yang rapih berwarna kemerahan dan hidung mancung dengan mata bulat tampak begitu meneduhkan. Dari itu semua, keindahan yang paling jelas terlihat adalah senyumnya yang selalu mengembang di wajahnya. Itulah perawakan Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz. 

Pekan lalu, dalam pidatonya di Jakarta di hadapan tokoh lintas agama, Habib Umar menyampaikan pandangan tentang pentingnya menjaga hubungan baik antar umat beragama. Pandangannya terasa begitu kokoh karena selalu ditopang oleh sederet ayat Al-Qur’an, Al-Hadist atau pendapat ulama terdahulu.

Di depan pendeta, romo, bikkhu dan tokoh agama lain, Habib Umar berhasil menemukan common ground di mana semua agama memiliki kesamaan pandangan, misalnya tentang pernghormatan pada kemanusiaan, larangan mengambil hak tetangga dan pentingnya menjaga kebaikan di antara umat beragama. Kesamaan ini yang diangkat dan di-highlight berkali-kali dengan landasan ayat Al-Qur’an dan Al-Hadist. 

Habib Umar yang menyadari bahwa dalam perbedaan masyarakat kerap terjadi perbedaan pendapat dan ‘gesekan’ di antara merekameminta maaf jika itu terjadi di Indonesia. Kelompok umat Islam yang melakukan tindakan anarkis sehingga menyebabkan umat lain terganggu disebutnya sebagai umat yang belum paham tentang ajaran Islam. Kalaupun mereka adalah orang yang paham akan ajaran Islam, maka mereka adalah orang yang belum menjalankan ajaran Islam dengan baik.  

“Kami meminta maaf apabila sampai ada orang nonmuslim yang pernah mendapatkan gangguan dari oknum beragama Islam. Seandainya ada umat agama lain yang terganggu oleh oknum agama Islam, saya katakan bahwa mereka adalah orang yang tidak paham ajaran Islam, atau mereka tak menjalankan ajaran agama Islam dengan baik,” kata Habib Umar.

Sosok yang bijaksana dan penuh perhatian

Selain berpemikiran luas, Habib Umar bin Hafidz merupakan sosok yang bijaksana. Habib Hamid Al-Qodri salah seorang murid Habib Umar yang berasal dari Indonesia mengatakan bahwa kebijaksanaan Habib Umar terlihat dari kebiasaannya yang tidak pernah menggeneralisir sebuah kesalahan dan menisbatkannya pada sebuah kelompok tertentu.

“Beliau (Habib Umar) tidak akan menyebut sebuah kesalahan sebagai kesalahan sebuah kelompok. Sebab bisa jadi kesalahan itu tidak dilakukan oleh semuanya,” kata Habib Hamid Al-Qodri kepada NU Online.

Dalam pandangan Habib Umar, katanya, akan selalu ada anggota kelompok yang berperilaku tidak sesuai dengan ajaran baik di dalam kelompoknya. Maka dari itu, penyamarataan atau melakukan generalisasi sama dengan menyebut bahwa semua orang di dalam kelompok melakukan hal buruk itu yang hanya dilakukan satu atau dua orang itu. Jika sikap itu diambil, maka akan menghalangi silaturrahmi antara kelompok. 

Selain itu, Habib Umar merupakan sosok yang memiliki perhatian yang tinggi pada muridnya-muridnya. Habib Hamid Al-Qodri mengisahkan, pada sebuah malam di musim dingin di mana suhu di Pondok Darul Mustofa, Tarim, Hadramaut, Yaman mencapai 4 derajat celcius, beberapa murid asal Indonesia kedinginan. Mereka adalah murid yang baru beberapa saat tiba di Yaman dan baru pertama kali merasakan musim dingin.

Pada waktu itu, terdapat empat murid asal Indonesia yang tak kebagian selimut tebal. Akhirnya Habib Umar mendatanginya sambil membawa dua lembar selimut. Lalu Habib Umar bertanya, ‘apakah selimutnya masih kurang?’. Para muridnya menjawab, ‘Iya masih kurang, Habib’. 

Selang beberapa waktu Habib Umar datang dengan selembar selimut di tangannya. Setelah menyerahkan, Habib Umar bertanya lagi, ‘apakah masih kurang?’. Lalu muridnya menjawab ‘Iya, kurang satu lagi Habib’. Tak lama, Habib Umar datang lagi membawa dan menyerahkan selembar selimut lainnya yang agak bau ‘pesing’. Walhasil murid yang menerima selimut terakhir ini sedikit menggerutu.

Keesokan harinya ia mengeluh pada temannya yang lebih senior tentang selimut yang diterimanya. Rekannya lalu berkata, “Sesungguhnya dua selimut yang diberikan pertama kali oleh Habib Umar adalah milik Habib Umar sendiri dan istrinya. Sedangkan dua yang terakhir adalah milik anak-anaknya yang masih kecil,” kata rekannya seperti ditirukan Habib Hamid Al-Qodri. 

“Jadi Habib Umar sampai rela dia dan keluarganya serta anak-anaknya tidur kedingingan karena rasa perhatian yang tinggi pada muridnya yang datang dari jauh,” ujarnya.

Habib Umar bin Hafidz dan perjalanan hidupnya

Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz dilahirkan di Tarim pada Senin, 4 Muharram 1383 H atau 27 Mei 1963 M. Sejak belia, beliau telah mempelajari sejumlah ilmu agama seperti Al-Hadist, Fiqih, Tauhid dan Ushul Fiqih dari lingkungan keluarganya sendiri, terutama dari ayahnya, Muhammad bin Salim yang merupakan seorang Mufti di Tarim. 

Selain dari Ayahnya, pada masa itu ia juga belajar dari tokoh-tokoh lainnya seperti Al-Habib Muhammad bin Alawi bin Shihab al-Din, Al-Habib Ahmad bin Ali Ibn al-Shaykh Abu Bakr, Al-Habib Abdullah bin Shaykh Al-Aidarus, Al-Habib Abdullah bin Hasan Bil-Faqih, Al-Habib Umar bin Alawi al-Kaf, al-Habib Ahmad bin Hasan al-Haddad, dan ulama lain di Tarim. 

Habib Umar sendiri mulai mengajar dan berdakwah sejak dia berusia 15 tahun sambil melanjutkan belajar pada para ulama kala itu.

Di saat situasi sosial-politik di Tarim sedang kacau atas penguasaan Rezim Komunis pada tahun 1981, Habib Umar pindah ke Kota Al-Bayda di sebelah utara Yaman. Di sana Habib Umar kembali mempelajari ilmu agama kepada al-Habib Muhammad bin Abdullah al-Haddar, Al-Habib Zain bin Ibrahim Bin Sumayt dan Al-Habib Ibrahim bin Umar bin Aqil. Sambil belajar, ia juga mengajar dan membuat forum kajian baik di kota Al-Bayda, di Al-Hudaydah dan juga di Kota Ta`izz.

Pada tahun 1992, Habib Umar pidah dari Al-Bayda ke kota Al-Shihr, Ibu Kota Provinsi Hadramaut untuk mengajar di sana setelah Rezim Komunis yang menguasai kota itu takluk. Setelah beberapa tahun tinggal di sana, Habib Umar kembali ke kota asalnya, Tarim pada tahun 1994. Pada tahun itu juga, Habib Umar mulai merintis berdirinya pondok pesantren Darul Mustofa dan mulai menerima murid dari berbagai tempat. Walau demmikian, pembukaan resmi Darul Mustofa baru diresmikan pada tahun 1997. Dan sejak saat itu, murid-murid berdatangan dari berbagai negara berdatangan untuk belajar di Darul Mustofa.

Kiprah dakwahnya tak hanya melalui mendirikan pesantren. Habib Umar juga menginisiasi sejumlah forum kajian keagamaan di kota Tarim. Salah satu forum yang rutin dia hadiri adalah pertemuan mingguan dengan warga Tarim yang digelar di pusat kota Tarim dan selalu dihadiri oleh ratusan penduduk kota setempat. Selain pertemuan formal, ia juga melakukan silaturrahmi ke berbagai tempat di Yaman untuk mengunjungu kampus-kampus dan sejumlah organisasi.

Saat ini, Habib Umar telah melakukan dakwahnya secara global. Sejumlah negara yang kerap dia hadiri adalah Syiria, Lebanon, Jordania, Mesir, Aljazair, Sudan, Mali, Kenya, Tanzania, Afrika Selatan, India, Pakistan, Sri lanka, Malaysia, Singapura, Australia dan sejumlah negara Eropa lainnya. 

Habib Umar, Indonesia dan NU

Di Indonesia sendiri, Habib Umar telah melakukan dakwah rutin sejak tahun 1994. Awal kedatangan Habib Umar ke Indonesia adalah pada tahun 1994 saat diutus oleh Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf yang berada di Jeddah untuk mengingatkan dan menggugah ghirah (semangat atau rasa kepedulian) para Alawiyyin Indonesia. Perintah itu disebabkan sebelumnya ada keluhan dari Habib Anis bin Alwi al-Habsyi seorang ulama dan tokoh asal Kota Solo, Jawa Tengah tentang keadaan para Alawiyyin di Indonesia yang mulai jauh dan lupa akan nilai-nilai ajaran para leluhurnya.

Intensitas kedatangan yang semakin sering ke Indonesia membuat Habib Umar menginisiasi lahirnya organisasi bernama Majelis Al-Muwasholah Bayna Ulama Al Muslimin atau Forum Silaturrahmi Antar Ulama. Sejak itu, Habib Umar menjadi semakin sering datang ke Indonesia untuk menyampaikan dakwah dan ajarannya.  

Pekan lalu, Habib Umar mengunjungi Indonesia selama 10 hari. Selama itu Habib Umar bin Hafiz mengunjungi sejumlah tempat mulai di Jakarta, Bandung, Cirebon, hingga Kalimantan. Setiap bulannya, secara rutin, Habib Umar juga megajar di sejumlah pondok pesantren Nahdlatul Ulama melalui siaran teleconference. 

Habib Umar sendiri menempati tempat yang khusus di hati Nahdlatu Ulama. Penghormatan pada keturunan Nabi Muhammad Saw telah ditanamkan jauh-jauh hari di dalam lingkungan pesantren. Di dalam struktur pengurus NU, selalu ada sosok habaib yang duduk di dalam kepengurusan NU baik di tingkat cabang hingga di tingkat pusat. 

Kedekatan NU dengan para habaib diakui kalangan habib sendiri, misalnya oleh Habib Syarief Muhammad Al-Aydarus Bandung yang tercatat pada pengantar buku ‘Panggilan Selamat’ yang menyatakan bahwa NU memiliki watak yang sangat menghormati dzuriyah (keturunan) Rasulullah atau para habib. 

Habib Umar sendiri juga sangat menghormati para ulama di Indonesia. Dalam pengajian rutinnya, Habib Umar mengkaji kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim karya pendiri NU, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Penghormatan Habib Umar pada ulama diakui oleh penguru PBNU.

“Penghormatan beliau (habib Umar) terhadap ulama Indonesia dibuktikan dengan komitmen beliau secara terus-menerus untuk mengkaji kitab karya Hadratusyeikh KH Hasyim Asy’ari setiap bulan,” ungkap Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Hery Haryanto Azumi, beberapa waktu lalu. 

Hal itu adalah suatu bukti nyata bahwa Indonesia menempati posisi yang sangat spesial di hati Habib Umar bin Hafidz. Lebih dari itu, kata Hery, Habib Umar meyakini bahwa kebangkitan Islam di masa depan akan datang dari Indonesia. (Ahmad Rozali)

(Sumber: NU Online, www.alhabibomar.com)

Cara Efektif Menjaga dan Menghafal Al-Qur’an

(Ket. KH. Abdullah Afif menyampaikan ilmu dan metode menjaga menghafal al-Quran kepada peserta) sumber: kopiireng, Ulin Tebuireng.o...